Harga minyak goreng mahal, dimana-mana mahal, nggak di Jakarta, Semarang, dan kota lainnya. Di Jakarta aja, harga yang semula sekilonya Rp 4500 udah melambung jadi Rp 9500. Di Semarang nyampe angka Rp 7500.

Dari semua yang terkena dampak kenaikan harga minyak goreng ini, yang paling apes terkena getahnya adalah para pemilik warung makan. Di saat harga-harga kebutuhan naik (terutama minyak goreng), harga makanan yang dijual mereka tidak mengalami kenaikan alias tetap. Mereka tidak bisa menaikkan harga makanannya karena berbagai alasan seperti takut kehilangan pelangganlah, sehingga mereka lebih rela mengalami kerugian. Tapi kalau hal ini berlangsung terus maka kemungkinan nantinya akan mengalami kebangkrutan.

Sebenernya pemerintah juga nggak tinggal diam menghadapi melambung tingginya harga minyak ini. Seperti operasi pasar, pemerintah udah turun ke pasar-pasar menjual minyak dengan pembatasan per orang maksimal 10 kilo, namun sayangnya operasi pasar ini juga belum sepenuhnya efektif. Banyak pedagang eceran yang mengantri beli minyak goreng lebih dari satu kali, sehingga ia bisa mendapat 40 kilo, yang nantinya akan dijual Rp 8500 perkilo. Juga banyaknya calo yang meresahkan masyarakat.

Sebenernya ada alternatif lain menghadapi mahalnya harga minyak goreng. Dalam memasak sebenarnya kita bisa mengurangi dalam hal menggoreng. Ada beberapa alternatif dalam memasak, seperti dengan merebus dan membakar. Banyak keuntungan memasak dengan cara merebus, selain hemat masakan dengan direbus akan lebih sehat karena tidak terkontaminasi oleh lemak dan zat-zat tidak berguna lain yang terdapat dalam minyak goreng. Dan makanan hasil rebusan juga tidak kalah enaknya, bahkan lebih enak jika dibanding dengan hasil gorengan. So, it’s depend on you ……